Upacara pengibaran bendera. Warga Kelurahan Kemijen, Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang, mengibarkan bendera Merah-Putih di tengah tambak yang dulunya merupakan bangunan Stasiun Goedang, Rabu (16/8/2017). (JIBI/Semarangpos.com/Imam Yuda S.)
Kamis, 17 Agustus 2017 10:50 WIB Imam Yuda Saputra/JIBI/Semarangpos.com Semarang Share :

HUT RI
Terendam Rob, Warga Semarang Tetap Kibarkan Merah-Putih

HUT RI diperingati warga Kemijen, Semarang, dengan mengibarkan bendera di atas bangunan Stasiun Goedang yang telah terendam rob.

Solopos.com, SEMARANG – Berbagai cara dilakukan warga untuk memperingati hari ulang tahun (HUT) Republik Indonesia (RI) atau Hari Kemerdekaan. Salah satu cara adalah dengan menggelar upacara di tempat-tempat yang ekstrem atau berakses sulit.

Seperti yang dilakukan warga Kelurahan Kemijen, Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang. Puluhan warga di kampung itu menggelar upacara dan mengibarkan bendera Merah Putih di sebuah bangunan tua yang sudah terendam rob dan kini dimanfaatkan menjadi tambak.

Bangunan tua yang telah terendam rob itu tak lain adalah bekas stasiun barang tertua di Indonesia, yakni Stasiun Goedang. Warga kampung tersebut harus rela mencebur ke dalam tambak dan basah kuyup untuk menggelar upacara pengibaran bendera Merah Putih di lokasi itu, Rabu (16/8/2017) sore.

“Memang sulit untuk mengibarkan bendera di tengah tambak. Selain dingin, airnya juga kotor. Tapi, enggak apa-apa. Ini kami lakukan sebagai wujud menghayati perjuangan para pahlawan yang telah merebut kemerdekaan,” ujar Kepala Desa Kemijen, Tjatur Edi, saat dijumpai wartawan seusai upacara pengibaran bendera.

Upacara pengibaran bendera.

Warga Kelurahan Kemijen, Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang, mengibarkan bendera Merah-Putih di tengah tambak yang dulunya merupakan bangunan Stasiun Goedang, Rabu (16/8/2017). (JIBI/Semarangpos.com/Imam Yuda S.)

Tjatur menambahkan selain untuk menghormati jasa para pahlawan, upacara pengibaran bendera di tengah tambak itu digelar sebagai wujud syukur terhadap Tuhan. Rasa syukur itu tak terlepas dari kebijakan Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang yang akan membangun kolam retensi di daerah-daerah yang terendam rob di Kemijen.

“Rencana 2018 nanti akan dibangun kolam retensi di tambak-tambak di sini. Kami senang dengan kebijakan itu,” ujar Tjatur.

Sementara itu, salah satu peserta upacara Emy Rahmawati mengaku senang bisa mengikuti upacara di tengah tambak. Meski pun ia harus berjibaku dengan air keruh yang ada di tambak.

“Ini baru kali pertama saya ikut upacara pengibaran bendera di tengah tambak. Awalnya takut kena air yang kotor. Tapi, ternyata asyik juga. Jadi lebih khidmat,” terang Emy.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

Kolom

GAGASAN
Komunikasi Politik Generasi Milenial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (26/3/2018). Esai ini karya Tiyas Nur Haryani, dosen Ilmu Administrasi Negara di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah tiyasnur@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Peradaban telah banyak berubah. Awalnya kita sering…

Terpopuler