ilustrasi
Selasa, 13 November 2012 22:09 WIB Ayu Prawitasari/JIBI/SOLOPOS Sains Share :

Perubahan Iklim Ditengarai Penyebab Keruntuhan Maya

ilustrasi

Sebuah studi yang dilakukan para antropolog menengarai bahwa runtuhnya peradapan kuno Maya disebabkan karena perubahan iklim. Studi itu menyebutkan Bangsa Maya berkembang pesat pada saat musim hujan sebaliknya pada musim kemarau panjang, bangsa ini diduga gagal mempertahankan esistensinya.

Sebagaimana dikutip dari wikipedia.org, peradapan Maya adalah sebuah peradaban yang muncul di Mesoamerika yang terkenal dengan aksara tertulisnya dan berasal dari masa Pra-Columbus. Peradapan Maya juga terkenal dengan kebudayaannya yang spektakuler, arsitektur, serta sistem matematika dan astronominya yang unik. Peradaban Maya bermula pada periode Pra-klasik, yang berkembang pada Periode Klasik (sekitar 250 M sampai 900 M), dan berlanjut sampai periode Pos-Klasik sampai kedatangan bangsa Spanyol di Yucatan. Pada zaman keemasannya, negeri Maya adalah salah satu negeri terpadat dan berbudaya paling dinamis di dunia.

Dilansir dari popularscience.com, Senin (12/11/2012), para arkeolog meyakini persinggungan politik kerap terjadi pada saat musim kering. Seorang Profesor dari Universitas Durham di Inggris, James Baldini bahkan mengatakan Maya adalah sebuah contoh peradapan canggih yang gagal beradaptasi dengan perubahan iklim. Klaim tersebut muncul berdasarkan hasil telaah mengenai data iklim yang telah berusia 2.000 tahun yang didapat dari sejumlah gua serta data arkeologis.

Masih terkait hasil penelitian mengenai penyebab keruntuhan Bangsa Maya, Baldini beserta sejumlah ilmuwan dari Amerika Serikat, Swis, Jerman serta Belize baru-baru ini melakukan analisis stalagmit di gua Belizan (disebut Yok Balum) yang lokasinya hanya kurang satu mil dari situs Maya Uxbenka. Analisis itu dilakukan setelah kontroversi atas penelitian yang mereka lakukan bermunculan. Penelitian pada Yok Balum dilakukan untuk mempelajari catatan iklim masa lalu yang dapat dilakukan melalui pemeriksaan silang penanggalan uranim-thorium. Seperti halnya penanggalan radiokarbon, metode ini dapat dipakai untuk menentukan usia material non-organik bahan kalsium karbonat gua kapur.

Dalam papernya, tim ilmuwan tersebut menulis bahwa stalagmit 22-inci dari Yok Balum menghasilkan pengukuran isotop oksigen. Isotop inilah yang selanjutnya bisa digunakan untuk merefleksikan curah hujan pada waktu tertentu yang jatuh di gua dan membentuk stalagmit. Dengan menganalisis tonjolan runcing yang ada pada gua, para ilmuwan itu berhasil mengidentifikasi lingkaran periode penghujan dan kemarau serta kekeringan yang sifatnya tiba-tiba pada masa Maya Klasik (300-1000 CE/Era Kristian).

Seorang arkeolog, Douglas Kennett dalam sebuah jurnal Science yang dipublikasikan dalam surat kabar baru-baru ini menulis bahwa pertumbuhan peradapan Maya berkorelasi kuat dengan periode basah atau penghujan selama beberapa ratus tahun. Sebaliknya penurunan peradapan Maya berkaitan dengan iklim kering yang dimulai sekitar 660 AD, kata dia. Penurunan produktivitas di bidang pertanian pada masa tersebut ditengarai para ilmuwan menjadi penyebab terjadinya banyak peperangan serta konflik.  Masih mengutip tulisan Kennett, kurangnya kelembaban pada musim kering menyebabkan banyak tanaman mati. Kondisi ini menyebabkan ketidakstabilan politik dan kehidupan ekonomi antara 800-900 CE. Ditengarai pada masa ini banyak sekali kota yang jatuh.

Para ilmuwan menyebut kehidupan Maya yang paling teratur ditemukan di masa 440-500 CE atau masa di mana curah hujan yang turun termasuk tinggi. Sebaliknya musim kering mulai terjadi pada 160 tahun sesudahnya atau kurang lebih pada 660 CE ditambah dengan periode kering yang muncul secara sporadis selama beberapa dekade. Pada awal dekade sebelum musim kering, tambah para ilmuwan tersebut, berkaitan erat dengan kemakmuran di sejumlah kota di Maya. Sebaliknya musim kering memicu isolasi dan mengguncang stabilisasi masyarakat Maya.

Di akhir penelitian, meski musim kemarau diyakini menjadi penyebab perubahan iklim, para ilmuwan sepakat kondisi itu hanyalah sebagian faktor. Kondisi cuaca bagaimanapun merupakan faktor kompleks yang tidak bisa dilepas ketika membahas perubahan iklim.

Kolom

GAGASAN
Komunikasi Politik Generasi Milenial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (26/3/2018). Esai ini karya Tiyas Nur Haryani, dosen Ilmu Administrasi Negara di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah tiyasnur@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Peradaban telah banyak berubah. Awalnya kita sering…

Terpopuler